Kucing-Kucing Kota Depok (3)

Rencana Kucing

****

Laksita adalah seorang manusia, perempuan berusia 16 tahun yang periang. Bibirnya selalu melengkungkan senyum dan memekarkan tawa. Namun karena berhari-hari dihidangkan sarapan daging wagyu, ia tak tahan lagi membendung rasa mual dan kalimat protes.

“Bu, kenapa setiap hari masak daging wagyu sih? Kan Laksita ngga suka!”

Barangkali itu adalah kalimat protesnya yang pertama di meja makan. Selama ini ia selalu memuji masakan ibunya, meskipun sering keasinan. Tapi, daging wagyu yang ini berbeda. Ia sudah berusaha mencari-cari kenikmatan daging jepang itu untuk dipuji, namun dari sudut pandang manapun, daging itu tak layak makan. Kalimat protes yang bernada lembut itu adalah sinyal terakhirnya. Selama ini, orang tuanya tak pernah menggubris protes implisitnya. Bahkan saat ia muntah pun, orang tuanya tetap melanjutkan makan.

Laksita pikir protesnya adalah sebuah kewajaran, seorang anak berhak mengkritik masakan ibunya yang tidak enak. Namun entah mengapa tiba-tiba saja suasana menjadi sangat tegang. Orang tuanya sepertinya terganggu dengan protesnya. Ayahnya, Pak Engkos, lantas berhenti melahap daging dan melemparkan pisau-garpu ke samping meja, seperti orang kehilangan napsu makan. Ia lalu memanggil Markus, kucing jumbo kesayangannya, dan memberinya sisa daging yang tak termakan. Ia kemudian mengelap mulutnya dengan tisu sambil menatap Laksita dalam-dalam. Baru pertama kali Laksita melihat mata ayahnya melotot setajam itu, tatapan yang sangat asing, seperti tersorot dari mata orang lain. Lalu dengan satu tarikan napas, Pak Engkos menyemprot habis.

“Tinggal makan, Bangsat! Ganggu selera makan gua aja!”

Seperti disambar petir, Laksita terperanjat dari kursinya. Tak disangka ayahnya akan berkata sekasar itu. “Bangsat” dan “gua” adalah dua kata yang baru pertama kali ia dengar keluar dari mulut ayahnya. Bukan, bukan dari ayahnya, tapi dari orang lain yang merasuki tubuhnya. Laksita sedih sekaligus takut. Jiwanya yang periang menciut di tengah kondisi mencekam seperti itu.

“Nangis kamu?” ucap ayahnya melihat Laksita mengusap air mata.

“Sana nangis di kamar!” Tunjuk tangannya sambil mengacungkan pisau.

Laksita memandang ibunya, berharap dewi itu membelanya dan memeluk tubuhnya yang rapuh. Namun ibunya malah membuang muka. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Ia malah mengelus-elus Markus yang sedang melahap sisa daging wagyu. Gerak-geriknya seolah mendukung semua tindakan abnormal suaminya. Telak! Tak ada tempat lagi untuk mengadu. Semua orang adalah orang lain. Laksita berlari ke kamar sambil membendung air mata.

Di kamar, Laksita menangis seperti bayi, sekali lagi menjadi manusia asing di tengah keluarganya sendiri. Kemurkaan orang tuanya benar-benar nyata, bukan mimpi, bahkan sangat natural. Tidak ada keraguan sedikitpun pada air muka ayahnya ketika marah. Tak ada guratan kasih sedikitpun pada wajah ibunya ketika menonton ia dihabisi. Bagi Laksita, kalimat kasar ayahnya adalah penjahat yang bersembunyi di balik pintu. Ketika pintu terbuka, segera penjahat itu menghunuskan pedang ke lehernya. Dan baginya, mata ibunya adalah polisi yang bersekongkol dengan penjahat. Perilaku keduanya tak pernah terbayang di pikiran Laksita. Selama 16 tahun menjadi anak, orangtuanya selalu konsisten menunjukkan kasih sayang. Mengapa tiba-tiba berubah?

Ayahnya, Pak Engkos adalah orang nomor satu di Kota Depok. Menjabat walikota selama dua periode tak membuatnya sombong dan angkuh. Bahkan, sepanjang pengetahuan Laksita, tak ada karakternya yang berubah sebelum dan sesudah menjadi walikota. Ia adalah ayah terbaik di dunia. Ia menyayangi bahkan memanjakan Laksita, anak semata wayangnya. Baru seminggu yang lalu ia mengajak Laksita liburan ke Jepang, supaya Laksita bisa mencicipi langsung masakan Jepang. Dan baru sebulan yang lalu ia memberi laptop kepada Laksita sebagai hadiah ulang tahun. Baru kemarin Pak Engkos memenuhi semua keinginan Laksita, mengapa sekarang berubah?

Ibunya, Bu Asih, adalah ibu rumah tangga yang suka memasak. Semua jenis masakan pernah ia masak. Rahasia makanan lezat, katanya, adalah jangan membayangkan apapun saat memasak kecuali wajah suami dan anak. Satu-satunya motivasi ia memasak adalah untuk memanjakan lidah suami dan anaknya. Karena alasan itulah, Bu Asih tidak pernah sukses membuka restoran. Laksita adalah orang kedua yang Bu Asih sayangi setelah Pak Engkos. Hampir setiap hari Bu Asih memasakkan makanan dan menyiapkan seluruh kebutuhan Laksita tanpa pamrih.

Orang tua Laksita adalah couple goal-nya Kota Depok. Selain harmonis, dua pasangan itu juga sangat relijius. Ketika ditanya rahasia keharmonisan rumah tangganya, keduanya menjawab bahwa mereka selalu menerapkan anjuran-anjuran agama dalam berumah tangga. Pak Engkos meniru karakter Nabi Muhammad sebagai suami dan Bu Asih meniru karakter Aisyah sebagai seorang istri. Ketika bertengkar, maka mereka berdua berlomba-lomba meminta maaf. Di dalam interaksi sehari-hari, mereka saling memuji kelebihan dan saling menutupi kekurangan masing-masing. Jika terlewat berjamaah di masjid, mereka berjamaah di rumah. Tahajud pun mereka lakukan berdua. Tak ada hari yang terlewat tanpa romantisme. Pak Engkos punya trik untuk memulai adegan romantis: minum dari gelas yang terdapat bekas bibir istrinya.

Barangkali perhatian orang tua Laksita terbagi karena kedatangan Markus, kucing jumbo yang dibeli Pak Engkos delapan tahun lalu, jauh sebelum dirinya menjadi walikota. Pak Engkos sebetulnya tidak suka hewan piaraan, tapi karena terus didesak oleh guru spiritualnya, ia pun membelinya. Kata guru spiritualnya, hewan piaraan adalah pembuka pintu langit. Tentang guru spiritual Pak Engkos, biar kuceritakan di lain waktu. Pak Engkos tidak suka hewan-hewan kecil. Memelihara hewan mungil bisa merusak maskulinitas dan wibawanya sebagai laki-laki. Hewan piaraannya harus bisa merepresentasikan jiwa lelaki yang tangguh. Macan tutul adalah hewan favorinya, tapi macan tutul bukan piaraan. Tak ada satupun toko hewan di dunia yang menjual macan tutul.

“Mengapa tidak mencari hewan piaraan yang mirip macan tutul saja, Pak?” saran istrinya.

Mata Pak Engkos berbinar-binar. Mesin pencariannya berhenti pada kucing bengal, ras kucing langka yang memiliki bulu seperti macan tutul. Kucing itu berukuran dua kali lipat kucing jantan biasa dan memiliki cakar tajam seperti belati, sangat cocok untuk menggambarkan keperkasaan dirinya. Ia lalu membelinya dan memberinya nama Markus. Barangkali karena sudah terlatih menjadi piaraan atau aura Pak Engkos yang terlalu seram, Markus sangat hormat dan takut pada Pak Engkos. Semua perintah Pak Engkos, baik dalam bentuk isyarat atau kata-kata, selalu Markus laksanakan dengan sigap. Markus seolah-olah memahami ucapan dan gerak-gerik Pak Engkos. Keduanya sangat dekat, namun kedekatan mereka tak lebih dari kedekatan antara majikan dan budak.

Ah, rasanya tak mungkin orang tuanya tiba-tiba berubah, pikir Laksita. Pasti mereka sedang punya masalah besar, sehingga jadi mudah tersinggung. Laksita-lah yang bersalah karena meracau di meja makan. Ia berpikir terlalu liar. Setelah dipikir panjang, ia pun memutuskan untuk meminta maaf. Ia berlari menuju ruang tengah, berniat menemui orang tuanya.

Namun Laksita kalah cepat dengan jamaah pengajian hari minggu. Pengajian hari minggu adalah program yang dibuat Pak Engkos untuk membuat kotanya relijius dan menghapus sekat antara dirinya dengan warga. Pengajian itu diadakan di rumah pribadinya dan dihadiri oleh seratus warga biasa. Acara itu juga disiarkan langsung melalui radio dan televisi daerah. Pendakwah-pendakwah kondang nusantara diundang untuk menyampaikan kalam-kalam hikmah dan Pak Engkos sendiri kadang ikut memberi ceramah. Tak seperti biasanya, pengajian hari minggu itu hanya dihadiri enam belas orang, termasuk ayah dan ibunya. Hadir pula Markus yang duduk tegak di samping ayahnya. Radio dan siaran televisi tidak meliput acara minggu itu. Sepertinya pengajian hari itu adalah pengajian khusus yang dihadiri oleh orang-orang penting saja. Tak ingin mengganggu, Laksita mengurungkan niat dan kembali ke kamarnya lagi.

****

Meskipun baru berusia satu minggu, gerakan pembebasan kucing berhasil membangun pondasi yang kokoh. Tragedi 26 September memberi latar belakang nasib yang sama bagi seluruh kucing kota depok. Ketidakadilan telah menyiramkan minyak tanah kepada jiwa seluruh kucing dan kediktatoran membakarnya. Semangat juang umat kucing terbakar, menyala-nyala di dalam kegelapan dunia.

Bagaikan lumut di musim hujan, para pemikir bermunculan di dunia kucing. Para filsuf kucing itu mempertanyakan keadilan Tuhan dan mengkritik kediktatoran Nabi Markus. Sudah sejak lama mereka memendam pemikirannya karena takut pada siksaan Nabi Markus. Namun sekarang, satu-satunya ketakutan mereka adalah mati konyol sebelum menyebarkan isi pikirannya. Mereka berorasi di pasar, memberi kuliah di pelataran, dan membakar massa di jalan. Dunia kucing telah terlepas dari belenggu zaman kegelapan. Fajar budi telah terbit di ufuk timur. Umat kucing berbondong-bondong mencuci pikiran mereka di laut kebebasan.

Ada dua filsuf yang paling terkenal seantero Depok. Mereka adalah Martin dan Hannah, pasangan kucing Tanah Baru yang telah menjalani hubungan terlarang selama bertahun-tahun. Hannah adalah kucing piaraan dan Martin adalah kucing liar. Di dalam hukum Tuhan, kucing liar tak diizinkan berhubungan badan dengan kucing piaraan. Kelas mereka tidak setara.

Setelah tragedi 26 September, keduanya membuka hubungan terlarangnya ke khalayak ramai. Teman-teman Martin tidak terkejut mendengarnya, karena Martin sudah sejak lama dikenal sebagai pemberontak. Teman-teman Hannah juga tidak terperanjat, karena Hannah sudah sejak dulu menentang perintah Tuhan. Keduanya malah disambut baik oleh masyarakat, bahkan diberi panggung untuk berpidato.

“Kalau Tuhan ada, maka ia tidak mungkin menciptakan kelas-kelas sosial. Jika ada Tuhan yang menciptakan kelas-kelas sosial, maka kita harus membunuhnya!” ucap Martin sambil disoraki tepuk tangan.

“Bahkan Tuhan pun tidak ingin berjenis kelamin betina. Segala jenis penderitaan berkumpul di dalam tubuh betina. Satu-satunya jalan adalah melawan!” ucap Hannah. Mendengarnya, seluruh kucing betina bangkit dan menyingsingkan lengan bajunya.

Hannah adalah teman dekat ibu Soni. Ya, Soni, kucing lemah yang tak memiliki apa-apa itu. Setelah kehilangan ibunya, Soni datang ke rumah Hannah dengan wajah linglung. Hannah menyambutnya dengan haru, seperti menyambut anaknya sendiri dari medan tempur.

“Tak ada kucing sekuat ibumu, Son.” ucap Hannah, menenangkan Soni.

“Anie adalah kucing yang memiliki hati malaikat. Ia telah menerima segala jenis ketidakadilan, tapi tak pernah berhenti menantang nasib.”

Sebelum pindah ke Pondok Cina, Soni dan ibunya, Anie, tinggal di Tanah Baru, berpindah dari satu rumah ke rumah lain untuk mengais rezeki. Anie tak ingin menjadi makhluk peminta-minta, tapi nasib memaksanya. Ia bukan hewan piaraan, juga berjenis kelamin betina. Dengan kata lain ia adalah kucing kelas terbawah. Nyawanya tak lebih berharga dari sepotong ikan. Harga dirinya bisa diinjak siapa saja. Tubuhnya berada dalam ancaman jantan setiap saat. Tuhan, jika ia ada, telah memahatnya menjadi makhluk paling hina.

Tapi ia tidak menyerah. Ia menaruh harapan besar pada bayi-bayi yang keluar dari rahimnya. Ia harus tetap hidup, agar anak-anaknya bisa tetap tumbuh. Sambil menggandong soni kecil, di tengah malam, ia masuk ke halaman rumah orang kaya Tanah Baru, menangis dan mengeong rintih, berharap sang majikan rumah megah itu memberinya sesuap nasi. Tiba-tiba pintu terbuka dan seekor kucing anggora betina menampakkan diri seraya tersenyum.

“Hai, saya Hannah. Jangan takut. Ayo masuk.”

Hannah mengajak mereka ke kamar dan memberi mereka sisa makanan. Baru pertama kali Soni dan ibunya makan makanan seenak itu. Hannah, si kucing anggora, tersenyum melihat dua kucing jalanan itu makan dengan lahap.

“Terima kasih,” ucap Anie sambil menangis, “Semoga Tuhan membalasmu.”

Soni dan ibunya sangat suka tempat itu. Mereka bisa makan sepuasnya dan tidur di kasur empuk. Mereka pun tinggal beberapa hari secara ilegal di dalam rumah itu, sebelum akhirnya sang majikan mencium keberadaan mereka. Hannah tak bisa berbuat apa-apa. Mereka dimasukkan ke dalam karung dan di buang ke pasar Pondok Cina.

“Mengapa Tuhan menciptakan ketiadkadilan dan mengapa ibuku menjadi korbannya?” tanya Soni pada Hannah sambil menangis.

Hannah menepukp-nepuk pundak soni. Malang nian nasib kucing jalanan ini.

“Son, satu-satunya alasan ketidakadilan adalah karena kita menyerahkan semua urusan kita kepada Tuhan. Dan satu-satunya jalan menghapus ketidakadilan adalah dengan merebut urusan-urusan kita kembali. Hapus air matamu dan bangun. Ayo, tentukan nasib dan takdir dengan tanganmu sendiri.”

“Bagaimana caranya?”

“Perang.”

****

Di markas kucing pondok cina, telah berkumpul seluruh ketua kucing Kota Depok. Dipimpin Louis, mereka melaksanakan rapat strategi perang besar melawan Nabi Markus. Propaganda Bertrand benar-benar berhasil. Semua aktor-aktor penting kini bersatu di bawah bendera pembebasan kucing. Tinggal menunggu hari, ribuan kucing Kota Depok menghunuskan cakar dan menyerbu rumah Tuhan untuk menuntut kebabasan.

Bersambung

Part 1 : Majlis Kucing

Part 2: Pembebasan Kucing

Part 3: Rencana Kucing

Part 4: Perang Kucing

Part 5: Takdir Kucing

3 tanggapan untuk “Kucing-Kucing Kota Depok (3)”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: